Pembantu Politisi senayan lantang menentang pelecehan ibu negara, seribu sayang ketika agama dan ajaran nabinya dilecehkan mereka diam senyap pura-pura main hape. Kenapa tidak sama-sama disoal? bukankah semua sama didepan hukum positif? Apa ada digedung itu politisi sejati?
walakin, ada kisah diera 50-an disebuah keramaian sudut kota palestina ada seorang pekerja muda biasa lagi ummi (tidak bisa baca tulis). Ia dipanggil Yasin Mahmud al-Junaidi.
Salah seorang terpelajar di kota itu ingin menghina Yasin di depan teman-temannya. Lalu orang itu menyampaikan ucapan selamat dengan mengatakan : “selamat datang wahai politisi...”
Maka pekerja itu (Yasin) meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri orang terpelajar yang menjadi direktur sekolah itu dengan penuh sopan santun, lalu ia berkata :
“Ustadz, Anda telah memanggilku dengan sebutan politisi. Jika anda berkenan tolong beritahu saya apa itu politik?
Lalu orang itu menggelengkan kepala dan turbusnya yang berwarna merah seraya menjawab : “politik wahai anakku, saya tidak mengetahuinya, saya tidak tahu begitu juga kamu, karena yang mengetahuinya adalah orang-orang tertentu”.
Maka Yasin menggeleng-gelengkan kepala, mengingkari dan menjawab ustadz itu dengan jawaban yang jelas : “tidak ya Ustadz, jangan Anda rendahkan saya setingkat Anda. Jika Anda tidak tahu, saya tidak seperti itu. Tolong Anda dengarkan, akan saya beritahukan kepada Anda.
Ya Ustadz, politik adalah pemeliharaan urusan umat di dalam negeri maupun di luar negeri. Dan saya bangga bahwa saya seorang pilitisi yang ada di barisan Hizbut Tahrir (Parpol internasional).”
Maka Ustadz terpelajar itupun terdiam di hadapan seseorang yang sepintas tidak mungkin melakukan hal itu.
Khatimah
Tidak rendah hati jika kita melakukan aktivitas politik atau dapat amanah memimpin masyarakat, karena membantu serta mengurus masyarakat adalah pekerjaan mulia. Bernilai amal mulia karena ikhlas dan sesuai hukum syarak. Wallahua'lam.[]
Kamang, 25 Nov 22
Debasriadi J. Mansur ~ Aktivis Minang