Memahami Komunis ditanah Minang

Responsive Ad Here

MEMAHAMI KOMUNIS DITANAH MINANG
Oleh: DA. Mansur (cicit veteran perang kamang 1908)

Menarik melihat proses masuknya faham sosialis di Sumatera Barat. Berbeda dengan ditanah jawa, berbagai intrik mewarnai perjalan ide dan ideologi asing ketanah minang yang sebelumnya mesra bersama kekhilafahan ottoman, kemesraan berupa cendramata pemberian raja alam (khilafah islam) berwujud "stempel negara" yang sampai detik ini masih tersimpan ditangan pewaris raja minangkabau.


SOSIALISME DI MINANGKABAU
Diakhir pemerintahan Ottoman, kemunduran pemikiran umat makin dalam, sedikitnya disebabkan oleh tiga faktor. Pertama Lemahnya Fikrah (pemikiran/ide), kedua Lemahnya Thariqah (penerapan ide) Ketiga rancunya penerapan fiqrah dan thariqah. Sederhananya ibarat bawa Pajero dari Padang ke Bukittinggi tapi belok ke Pekanbaru dulu Via Jalan Tol Jokowi karena cinta mati diapun ke SPBU isi Pertamax Turbo.😵

Dijaman bergejolak itu Neraca islam sedang dibawah sementara neraca sekularisme/Sosialisme dunia meninggi. Wajar dinusantara ada kegaluan dalam mencari solusi masyarakat, kiblatnya (sadar atau tidak sadar) tidak jauh dari bayang-bayang blok london atau sakte kremlin.

Qadarullah begitupun diminangkabau pasca 1924 sebagian ulama (Rahimakumullah) mulai bergeser sehasta kekanan dengan menerima solusi demokratisasi, negara bangsa sejenisnya, dan sebagian kecil lagi miring sedepa ke kiri dengan mencari-cari dalil kebolehan Sosialisme komunisme. Berpijak slogan indah "anti penjajahan" umat terhipnotis akan solusi-solusi heroik.

Khusus Faham Kuminih (Komunisme), ia masuk ke minangkabau melalui jalur padang panjang tahun 1923 dibawa Haji Achmad Chatib Datuak Batuah seorang yang juga pernah belajar di Makkah. Dia juga sempat menjadi guru disebuah pesantren ternama disana dan sebarkan pemahaman kuminih didalamnya. Ajaran ini didapatnya di tanah jawa ketika bertemu haji misbach, kemudian menjadi kental ketika bertemu Natar Zainuddin seorang Sosialis yang bekerja sebagai Kondektur Trem di Aceh.

Kuminih yang diajarkanya sebatas anti penjajahan (tidak total mengadopsi Marxisme-Leninism) Kutip buya Hamka dalam sebuah catatanya. Melalui jorgan anti penjajah, mudahlah baginya mencari dalil pembenaran. Umat terpukau

Waktu berganti, sosialisme dan Komunisme mencari bentuk lalu semakin menampakkan tabiat, para ulama tokoh masyarakat akhirnya mulai sadar kekeliruannya, lambat laun reduplah faham kiri ini seiring perginya penjajahan fisik di tanah minang.

Hari ini tersisa Kapitalisme Demokrasi. Insyaallah dengan lembut kan tercerabut dari pemikiran umat, sehingga umat terbaik ini sadar hanya islamlah solusi utama negeri ini bukan Kapitalisme-Sosialisme dan varian-varianya

MEMAHAMI
Ulama itu seperti bintang dilangit, dia curahkan fikiran dan air mata menyelamatkan umat dari kebinasaan, kalaupun terjadi kesalahan dalam solusinya, semoga ketidaktahuan bisa menghapus dosa.

Tugas pemudalah yang faham dan mengerti akan solusi wajib memikul beban meneruskan semangat para ulama pendahulu menyelamatkan umat dari kebinasaan. Dengan cara mengembalikan penyelesaian persoalan ini kepada bagaimana dulu persoalan ini diselesaikan. Wallahualam