OLEH : KH. M. SHIDDIQ AL JAWI
Ustadz, saya mau tanya. Bagaimana hukumnya jual beli lebah? Dan apakah lebah termasuk binatang yang haram dimakan? Kalau ya, apakah memperjualbelikannya juga haram, Ustadz? Sebagai contoh, saat ini banyak dilakukan transaksi jual beli lebah kelulut dengan sarangnya untuk diternak, kemudian dipanen madunya. Jadi lebah kelulut itu dijual bersamaan dengan sarangnya (koloninya) karena di dalam sarangnya ada ratu lebah yang diikuti oleh lebah-lebah yang lain sebagaimana halnya lebah hutan liar, Ustadz. (Nofri, Bukittinggi)
Jawab :
Memang benar, lebah (an nahl) termasuk binatang yang haram dimakan. Karena terdapat kaidah fiqih: *"Kullu hayawânin nuhiya ‘an qatlihi harâmun.”* (setiap-tiap binatang yang dilarang untuk dibunuh, haram dimakan). (Imam Syaukani, _Nailul Authar,_ hlm. 1686).
Dalam hal ini telah terdapat dalil yang melarang membunuh lebah. Dari Ibnu ‘Abbas RA,”Sesungguhnya Nabi SAW telah melarang untuk membunuh empat macam binatang, yaitu semut _(an namlah),_ lebah _(an nahlah),_ burung Hudhud, dan burung Shurad.” (HR Abu Dawud, no. 5267, Ibnu Majah, no. 3224, Ahmad, 1/332).
Lalu, jika memakan lebah haram, apakah menjualbelikan lebah hukumnya haram? Jawabannya, menjualbelikannya boleh. Mengapa? Karena khusus untuk binatang yang haram dimakan, hukumnya boleh dijualbelikan jika memenuhi 2 (dua) syarat;
*Pertama,* binatangnya harus suci (tidak najis). *Kedua,* binatangnya mempunyai manfaat yang mubah bagi manusia. (Yusuf As Sabâtin, _Al Buyû’ Al Qadîmah wa Al Mu’âshirah,_ hlm. 49).
Mengenai bolehnya menjualbelikan binatang yang haram dimakan asalkan tidak najis, dasarnya kaidah ushul fiqih : *Al ‘âm ba’da at takhshîsh hujjah fi al bâqi.* (dalil umum setelah dikecualikan/dikhususkan, tetap menjadi dalil bagi sisanya yang tidak dikecualikan). (Imam Syaukani, _Irsyâdul Fuhûl,_ hlm. 144; Syeikh Abdul Qâdir Ad Dimasyqi, _Nuzhatul Khâthir Al ‘Âthir,_ 2/131; Wahbah Az Zuhaili, _Ushûl Al Fiqh Al Islâmî,_ 1/ 264).
Dalam hal ini telah terdapat dalil umum (QS Al Baqarah : 29) yang membolehkan memanfaatkan segala sesuatu yang diciptakan Allah di bumi. Kemudian ada sebagian benda yang pemanfaatannya diharamkan berdasarkan dalil takhshish (pengecualian), di antaranya lebah untuk dimakan.
Maka, pemanfaatan lebah selain untuk dimakan, misalnya untuk diternakkan dan dijualbelikan, hukumnya tetap boleh berdasarkan dalil umum yang ada tersebut (QS Al Baqarah : 29).
Mengenai syarat pertama bahwa binatangnya harus suci (tidak najis), karena terdapat dalil umum yang melarang memanfaatkan segala sesuatu yang najis (rijsun/najisun). (lihat QS Al Mâ`idah : 90). Kaidah fiqih menyebutkan : *Lâ yajûzu al intifâ’ bi an najis muthlaqan*. (tidak boleh memanfaatkan sesuatu yang najis secara mutlak). (Muhammad Shidqi Al Burnu, _Mausû’ah Al Qawâ’id Al Fiqhiyyah,_ 8/978).
Adapun syarat yang kedua, yaitu binatangnya harus mempunyai manfaat yang mubah bagi manusia _(yuntafa’u bihi),_ karena hal ini merupakan salah satu syarat untuk barang dagangan _(al mabî’)_ dalam akad jual beli. (Muhammad Taqî Al ‘Utsmanî, _Fiqh Al Buyû’,_ 1/289). Khusus untuk jual beli _al hasyarât_ (binatang-binatang melata yang kecil), seperti ulat, lebah, dan sebagainya, Imam Al Hashkafi (dari mazhab Hanafi) membolehkan asalkan ada manfaat yang mubah, sesuai patokan fiqih _(dhawabith)_ rumusan beliau : *inna jawâz al bai’ yadûru ma’a hill al intifâ’.* (sesungguhnya bolehnya jual beli al hasyarât, bergantung pada adanya pemanfaatan yang bersifat mubah). _(Al Mausû’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah,_ 17/281).
Kesimpulannya, menjualbelikan lebah kelulut beserta sarangnya yang ditanyakan di atas, hukumnya boleh. Namun disyaratkan, lebah kelulut yang dijual itu dapat diserahkan terimakan (taslîm) kepada pembeli, jumlahnya diketahui dengan jelas, dan ratu lebahnya dipastikan keberadaannya dalam sarang lebah tersebut, sebagaimana disebutkan oleh ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah dalam masalah ini. _(Al Mausû’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah,_ 42/317-318). Wallahu a’lam.
*Yogyakarta, 08 April 2020*
*M. Shiddiq Al Jawi*