Penguasa Gagalkan Konferensi Khilafah di Bangladesh, Namun Khilafah Semakin Membahana

Responsive Ad Here
Seperti telah diberitakan sebelumnya, Hizbut Tahrir Bangladesh akan mengadakan konferensi nasional di Dhaka, Selasa, 21 Juli 2009. Pada waktu yang telah dijadwalkan, yakni pukul 04:00 waktu setempat, lebih dari 1.000 anggota dan pendukung partai berkumpul di tempat diselenggarakannya konferensi. Namun, polisi mencoba menghentikan konferensi yang mengangkat tema, "Khilafah untuk Bangladesh" tersebut.


Polisi menghalangi ribuan kaum Muslim yang memenuhi seruan Hizbut Tahrir untuk menghadiri konferensi tersebut dan polisi juga mengunci pintu-pintu aula. Sekitar setengah jam, Ketua Koordinator dan Wakil Resmi Hizbut Tahrir Mohiuddin Ahmed dan Wakil Jurubicara Kaji Murshedul Haque berdiskusi dengan polisi dan bersikeras bahwa mereka diiziknkan untuk terus menggelar konferensi.


Perwakilan dari Hizbut Tahrir tersebut mengingatkan polisi bahwa kegiatan itu sesuai hukum dan mereka tidak memiliki hak untuk menghentikannya. Namun, polisi gagal memberikan alasan yang dapat dibenarkan untuk mencegah konferensi. Mereka hanya mengatakan bahwa dirinya hanya mengikuti perintah dari pemerintah.

Menyikapi hal tersebut, pihak jurubicara berkata, "Kekuatan penjajah kafir telah gagal untuk menyembunyikan seruan Khilafah dan begitu juga agen-agen mereka." Pihak polisi meminta orang-orang meninggalkan tempat yang telah direncanakan.


Pada pukul 05.00, sekitar 5.000 anggota dan pendukung partai berkumpul di luar masjid nasional dan menentang keras keputusan pemerintah. Para polisi di luar masjid nasional tak mampu melakukan apa-apa untuk menghentikan aksi unjuk rasa dengan massa yang besar tersebut. Setelah berunjuk rasa, Mouhiuddin Ahmed membacakan sikap resmi yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir kepada masyarakat yang berjudul, "Hai umat Islam, Hizbut Tahrir menyeru Anda untuk menolak sistem pemerintahan kufur ini dan memenuhi kewajiban syariah untuk menegakkan kembali Khilafah".


Demikianlah, kaum Muslim Bangladesh bersama Hizbut Tahrir berunjuk rasa dan berkumpul untuk tetap menyerukan Khilafah, sekalipun pihak penguasa setempat berupaya menggagalkannya. Memang sungguh pelik kondisi dunia Islam, di mana para penguasa yang merupakan agen-agen penjajah berupaya dengan berbagai cara untuk menghentikan seruan Khilafah. Mereka lupa, di jantung negeri imperialis sendiri, para peguasa penjajah itu tak mampu menghentikan seruang Khilafah yang terus membahana. Seperti di Amerika, Konferensi Khilafah tetap digelar di Hotel Hilton, Chicago, IL, ungkap keruntuhan kapitalisme dan kebangkitan Islam. Tentu saja, kegiatan Hizbut Tahrir untuk pertama kalinya di Amerika tersebut mendapat sambutan yang luar biasa, baik pengamat maupun berbagai media [baca: Khilafah Menggoncang Amerika, Jantung Kekufuran Dunia].


Bagaimana bisa, di jantung tuannya saja, penguasa penjajah tak mampu menghentikan Konferensi Khilafah, karena memang tidak ada alasan untuk menghentikannya. Tetapi, di negeri Muslim sendiri, penguasanya malah tetap patuh pada penjajah untuk menghentikan dengan berbagai cara seruan Khilafah yang di negeri tuan-tuan mereka tak mampu dihentikan. Hingga suata saat, Khilafah yang sesuai metode kenabian itu berdiri kembali. [f/z/bangla/syabab.com]