)seperti terjadi beberapa waktu lalu di kampus unand 15 oktober 2008 dalam acara bedah visi dan misi calon walikota padang yang diadakan BEM universitas andalas. Kerusuhan yang berujung bentrok fisik antara beberapa pihak BEM FH dan BEM U di ruang seminar tersebut dipicu ketidak puasan BEM fakultas hukum atas acara tersebut karena ditenggarai terdapat unsur kampanye yaitu adanya pemilih dan penyampaian visi dan misi seperti diungkapkan Donal Fariz (Presiden BEM fakultas hukum). Menurut Donal....
yang mengacu pada Pasal 1 ayat 23 UU no. 32 tahun 2004 junto UU no. 12 th 2008, Kegiatan bedah visi dan misi tersebut sudah termasuk bagian dari kampanya sedangkan pasal 78 (i) UU no. 32 th 2004, jelas ada pelarangan lokasi kampanya di rumah ibadah dan iunstitusi pendidikan, kampus undan adalah institusi pendidikan. Katanya. Dilain pihak, penyelenggara bedah visi dan misi berpandangan bahwasannya acara tersebut sudah mengantongi izin dari pihak-pihak yang bersangkutan. Sehingga mereka tidak merasa bersalah atas penyelenggaraannya.
Cerminan idiologi kapitalis dan "si anak haram" demokrasiKasus ketidaknyamanan para mahasiswa tentang adanya nuansa kampanye di areal kampus sebenarnya sudah lama terasa, jauh sebelum insiden diatas, insiden serupa juga terasa pada saat pemilihan gubernur sumbar tahun 2005. saat itu kampus juga diadakan bedah visi dan misi cagub, sehingga saat itu setiap acara yang diadakan oleh BEM U yang berbau politik, dikesankan sebagai sebuah kampanye, karena 2 dan 3 periode ini terkesan pengurus BEM tercap sebagai kader partai tertentu, yang selalu mengusung atau minimal fokus kepada tujuan-tujuan partai induk mereka.
tapi apa salahnya? secara faktual politik dikesankan sebagai merebut kekuasaan, sehingga setiap kegiatan yang berbau politik tidak jauh dari kursi kekuasaan, janji tongkosong, bermanis muka, rajin ke masyarakat, pokoknya orang paling baik di dunia. setelah itu. peduli amat!!!. haqul yakin janji mereka tidak satupun direalisasikan, bahkan ketempat orang miskin yang dikunjungi sebelumnya pun tidak pernah mereka kunjungi lagi.. (dasar utilitarianisme). sehingga wajar masyarakat dan mahasiswa yang pinter akan muak dengan praktek-praktek politik badut seperti yang ditontonkan selama ini, dan wajar mereka membentengi masjid mereka, kampus hijau mereka dari praktek-praktek demikian.
kembali ke politik islamsesungguhnya masyarakat telah termakan dengan ide-ide politik demokrasi yang diasuh oleh ideologi kapitalisme, dimana politik diartikan kekuasaan. sedangkan dalam islam politik adalah su'unul ummah yakni mengatur urusan ummah, para anggota parpol dididik memiliki rasa mengayomi, tampa melihat apakah proses melayani ummat tersebut akan di beri imbalan atau tidak, politik yang terlanjur dianggap najis, sekarang akan dicoba dibersihkan dengan menyebarnya kader-kader politisi ikhlas yang terjun ke masyarakat menyebarkan ide dan metode islam dalam berpolitik. sehingga diharapkan masyarakat faham bagaimana fakta politik di komunitas demokrat dlm bingkai kapitalisme layaknya indonesia dan kemudian dibandingkan dengan ide dan metode yang jelas yang ditawarkan islam yakni ide islam dengan metode khilafah dengan khalifah sebagai pemimpinya. pada saat itulah kampus dan masjid merupakan tempat yang mulia untuk berpolitik.
allahuakbar by: ex ketum gp unand