
Wafatnya mantan presiden Soeharto meninggalkan duka yang mendalam bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Setidaknya hal ini dapat dilihat dari pemberitaan di berbagai media yang memotret ekspresi sebagian warga dalam merespon kepergian mantan presiden Soeharto. Bentuk respon...
ini beranekaragam yang dapat di lihat seperti ritual pemanjatan doa bersama dari berbagai masyarakat di berbagai daerah, mengheningkan cipta sejenak di berbagai tempat, dan lautan bendera merah putih yang berkibar setengah tiang. Dijalan-jalan tempat melintasnya iring-iringan mobil jenazah Soeharto terlihat jejeran massa yang berusaha memberikan penghormatan terakhirnya untuk melepas kepergian sang “bapak Bangsa”. Bila kita menyaksikan sederetan pemberitaan yang disiarkan baik melalui media cetak maupun elektronik mengenai wafatnya mantan presiden Soeharto, seolah-oleh tergambar dalam imajinasi kita bahwa Ibu Pertiwi sedang menangis yang air matanya mengalir hampir di seluruh pelosok negeri. Sampai-sampai, pemerintah-pun menetapkan bahwa selama sepekan adalah hari berkabung nasional paska wafatnya mantan presiden Soeharto.
Melihat gambaran yang ditayangkan oleh media mengenai pemberitaan meninggalnya Soeharto, secara tidak sadar kita telah masuk kedalam dimensi pencitraan yang dibawa oleh media yang berpotensi mereduksi pemahaman kita akan informasi secara proporsional. Dalam frame seperti inilah para aktifis pergerakan banyak yang mengkritisi dan menyesalkan media dalam membangun proporsi pemberitaan yang tidak seimbang. Masyarakat seolah-olah digiring didalam suatu mindset tunggal yang bekerja melalui proses pencitraan media. Proses inilah yang yang mempengaruhi sekaligus membentuk respon dari masyarakat mengenai suatu peristiwa yang telah diredusir sedemikian rupa oleh pencitraan yang mengakibatkan manipulasi pembentukan persepsi umum. Sederhananya, setelah publik disodorkan berbagai informasi dari sudut pandang tertentu yang melulu itu-itu, kemudian masyarakat ditanyai, bagaimana kesan Anda pada orang hebat ini? Tentunya persepsi yang akan terbentuk dalam proses semacam ini bersifat manipulatif. Hal inilah yang dikritik oleh para intelektual dan aktifis pergerakan sebagai proses perekayasaan opini publik oleh media.
Realitas yang tergambarkan diatas memberikan pelajaran kepada kita bagaimana konstruksi pencitraan yang dibuat oleh media mampu mempengaruhi kesadaran publik. Dalam era teknologi informasi sekarang ini, masyarakat seolah dibanjiri oleh beraneka ragam informasi yang masuk baik dalam wilayah publik maupun wilayah privat. Bagi kalangan awam yang notabene minim pendidikan, amat sulit untuk menilai informasi secara kritis. Akibatnya, distorsi realitas menjadi sebuah sangkar yang mengurung masyarakat dari kondisi yang ter-hegemonik. Hal ini terkait dengan adanya dominasi ideologis yang beroperasi didalam hampir setiap peristiwa komunikasi. Dalam peristiwa komunikasi seperti itu yang terjadi adalah seperti apa yang disebut oleh Baudrillard sebagai “pabrikasi nonkomunikasi”. Proses interaksi yang terjadi dalam kerangka seperti ini hanyalah semacam interaksi semu yang menempatkan setiap subjek dalam peristiwa komunikasi mengalami proses pendangkalan pemahaman.
Untuk itu, sikap kritis mutlak diperlukan bagi kita ditengah era teknologi informasi sekarang ini. Media sebagai instrument dominant dalam peristiwa komunikasi mutakhir lebih banyak mendistorsi realitas akibat persinggungannya dengan kepentingan tertentu. Pembacaan dari berbagai sudut pandang dan perspektif mengharuskan kita untuk cakap dalam mengeksplorasi beragam informasi termasuk situasi lain yang melingkupinya. Dengan ini kita mendapatkan objektivitas yang sesungguhnya dari berbagai informasi yang ada, dan kita terhindar dari upaya perekayasaan opini publik yang menyesatkan dan bersifat hegemonik (menindas). Sebagai manusia seutuhnya yang terbebas dari keterasingan yang sengaja di reproduksi oleh media sebagai agen budaya massa kapitalisme yang mendehumanisasi manusia.