Revolusi Prancis Bukan Sekadar Politik, Ini Keterlibatan Freemasonry di Baliknya

Responsive Ad Here

Pada tanggal 21 Januari 1793, sebuah peristiwa bersejarah terjadi di Place de la Revolution, Paris. Raja Louis XVI dari Prancis dieksekusi de

ngan guillotine di hadapan rakyatnya.

Eksekusi ini bukan sekadar hukuman mati biasa. Ini adalah puncak dari revolusi yang telah mengguncang Prancis sejak 1789.

Raja Louis XVI dianggap sebagai pengkhianat revolusi karena berusaha memulihkan monarki absolut. Ia dituduh bekerja sama dengan kekaisaran Austro-Hungaria Habsburg untuk menggagalkan perubahan.

Tak lama setelah suaminya dieksekusi, Ratu Marie Antoinette juga mengalami nasib yang sama. Ia dipenggal pada 16 Oktober 1793, hanya berselang sembilan bulan dari kematian sang raja.

Revolusi Prancis yang berlangsung 1789-1799 ini mengubah wajah Eropa selamanya. Semboyan Liberte, Galite, Fraternite menjadi ikon perjuangan rakyat.

Namun di balik gemuruh revolusi, ada kekuatan tersembunyi yang menggerakkannya. Mereka adalah kaum Yakobin, yang ternyata terkait erat dengan Freemasonry.

Kaum Yakobin dan Koneksi Freemasonry

Kaum Yakobin adalah kelompok politik radikal yang menjadi penggerak utama revolusi. Mereka berkumpul di Biara Dominikan di Paris yang kemudian dikenal sebagai Rue Saint-Jacques.

Pemimpin mereka, Robespierre, adalah figur sentral dalam pemerintahan teror. Namun yang menarik, Robespierre diketahui sebagai Grand Master Freemasonry Prancis.

Freemasonry atau mason bebas adalah organisasi rahasia yang memiliki pengaruh besar di Eropa. Mereka memiliki agenda tersembunyi untuk mengubah tatanan dunia.

Para Yakobin bekerja sama dengan Jenderal Napoleon Bonaparte dan keluarganya. Mereka menyebarkan kampanye Liberte, Galite, Fraternite untuk menggerakkan massa.

Namun akar dari gerakan ini jauh lebih dalam dari sekadar politik Prancis. Ia berakar pada dendam lama yang terbawa sejak Perang Salib.

Untuk memahami ini, kita harus mundur ke abad ke-14, saat para Templar diburu dan dibantai. Kekaisaran Prancis menjadi musuh utama mereka.

Dendam inilah yang kemudian diwariskan turun-temurun hingga meletus dalam revolusi. Freemasonry menjadi wadah bagi para pewaris dendam ini.

Tragedi Para Templar di Tangan Philip IV

Pada tahun 1306, Raja Philip IV dari Prancis menghadapi masalah keuangan besar. Kekaisarannya bangkrut akibat Perang Salib yang berkepanjangan.

Philip IV berutang besar kepada Knights Templar, ordo militer yang kaya raya. Para Templar ini adalah bankir paling berpengaruh di Eropa saat itu.

Tahun 1307, Philip IV bekerja sama dengan Paus Clement V, seorang paus asal Prancis. Mereka menuduh para Templar sebagai aliran sesat dan mengadili mereka.

Puncaknya pada 18 Maret 1314, Grand Master Templar, Jacques de Molay, dieksekusi. Ia dibakar hidup-hidup di tiang pancang di Paris.

Sebelum mati, Jacques de Molay mengucapkan kutukan terkenal. Ia bersumpah bahwa siapa yang membunuhnya akan mati dalam waktu setahun.

Benar saja, Paus Clement V meninggal sebulan kemudian, diikuti Philip IV pada November 1314. Kutukan itu menjadi legenda yang terus dikenang.

Para Templar yang selamat melarikan diri ke Skotlandia, tempat mereka dilindungi. Di sanalah mereka mulai menggunakan identitas baru sebagai tukang batu atau mason.

Kelahiran Freemasonry dan Dendam yang Terpendam

Di Skotlandia, para Templar yang mengungsi mulai membangun jaringan rahasia. Mereka menyebut diri mereka sebagai mason, yang berarti tukang batu.

Batu yang dimaksud adalah Sion atau Zion, bukit batu di Yerusalem. Mereka bermimpi membangun kembali Temple of Solomon, rumah ibadah versi Yahudi.

Mereka menggunakan simbol-simbol pertukangan seperti jangka, mistar, dan celemek. Simbol-simbol ini kemudian menjadi ciri khas Freemasonry.

Dari Skotlandia, gerakan ini menyebar ke Inggris dan membentuk Grand Lodge of London pada 1717. Di sinilah konsep Novus Ordo Seclorum atau tatanan dunia baru dirancang.

Mereka menyusun doktrin yang diambil dari Talmud Yahudi, yang dikenal sebagai Khomsah Qanun fi Talmud. Lima asas inilah yang menjadi dasar Freemasonry.

Mereka bertekad untuk menghancurkan dua imperium besar yang menghalangi cita-cita mereka. Imperium Kristen di Barat dan Kekhilafahan Islam di Timur harus dilikuidasi.

Prancis sebagai representasi imperium Kristen menjadi sasaran pertama. Dendam terhadap Philip IV yang membantai leluhur mereka masih membara.

Revolusi Prancis, Puncak Dendam Para Mason

Pada 1728, Freemasonry Prancis mendirikan Grand Orient de France. Ini menjadi markas bagi para mason untuk merencanakan penggulingan monarki.

Para Templar yang dulu terusir kini kembali ke Paris dengan kekuatan baru. Mereka membawa ide-ide yang dirumuskan bersama pemikir seperti Voltaire dan John Locke.

Voltaire dan Locke adalah tokoh yang sangat anti-agama. Mereka menganggap dogma gereja dan syariat Islam harus disingkirkan dari pemerintahan.

Revolusi Prancis pecah pada 14 Juli 1789 dengan penyerbuan penjara Bastille. Rakyat diprovokasi oleh kaum Yakobin yang tak lain adalah Freemason.

Pemerintahan teror berlangsung 1793-1794, ditandai dengan eksekusi massal. Ribuan orang, termasuk raja dan ratu, kehilangan nyawa di guillotine.

Bagi para mason, ini adalah balas dendam yang telah dinanti selama 400 tahun. Keturunan Philip IV akhirnya merasakan akibat dari perbuatan leluhurnya.

Namun kemenangan ini tak berhenti di Prancis. Amerika Serikat sudah lebih dulu menjadi negara mason pertama pada 1776.

Amerika Serikat, Prototipe Negara Mason

Pada 4 Juli 1776, 13 koloni Inggris di Amerika mendeklarasikan kemerdekaan. George Washington, seorang Grand Master Freemason, menjadi presiden pertama.

Amerika Serikat adalah prototipe negara mason yang pertama di dunia. Mereka mengusung ide sekularisme dan liberalisme sebagai dasar negara.

Di balik dollar Amerika, terdapat simbol-simbol Freemasonry yang jelas. Piramida dengan mata satu, serta tulisan Novus Ordo Seclorum, menandai ambisi global mereka.

Negara ini didesain untuk netral terhadap agama, bahkan anti terhadap syariat. Inilah model negara modern yang ingin mereka sebarkan ke seluruh dunia.

Para pendiri Amerika seperti Thomas Jefferson dan Benjamin Franklin juga Freemason. Mereka menyusun konstitusi yang memisahkan agama dari urusan negara.

Dengan berdirinya Amerika, Freemasonry memiliki pangkalan kuat di Dunia Baru. Dari sini mereka bisa menyebarkan pengaruh ke seluruh penjuru.

Kemenangan di Prancis dan Amerika menjadi fondasi bagi tatanan dunia baru. Negara-negara bangsa modern mulai bermunculan dengan model sekuler.

Khomsah Qanun fi Talmud, Doktrin Freemasonry

Freemasonry memiliki lima doktrin utama yang diambil dari Talmud Yahudi. Kelima asas ini kemudian diadopsi oleh negara-negara modern.

Pertama adalah nasionalisme, semangat kebangsaan yang mengalahkan ikatan agama. Kedua adalah demokrasi, kedaulatan rakyat di atas segalanya.

Ketiga adalah humanisme, nilai kemanusiaan universal yang menggeser wahyu. Keempat adalah sosialisme, keadilan sosial tanpa memandang agama.

Kelima adalah monoteisme kultural, kepercayaan kepada Tuhan yang disesuaikan budaya. Tuhan ditempatkan di posisi terakhir, bukan sebagai sumber hukum.

Revolusi Prancis mengadopsi doktrin ini dengan semboyan Liberte, Galite, Fraternite. Namun mereka mengubah urutannya sesuai kondisi lokal.

Nasionalisme menjadi yang utama, disusul keadilan sosial, demokrasi, humanisme, dan terakhir ketuhanan. Inilah cikal bakal negara modern yang kita kenal.

Zionisme kemudian mengadopsi doktrin serupa dalam kongres Basel 1897. Mereka menambahkan internasionalisme sebagai prioritas utama.

Demikianlah, dari dendam para Templar, lahirlah tatanan dunia baru yang sekuler. Novus Ordo Seclorum terus berjalan hingga hari ini.

Pelajaran dari Sejarah untuk Umat Islam

Sejarah ini mengajarkan kita untuk tidak melupakan masa lalu. Allah berfirman dalam Al-Qur'an, "Waltandzur nafsun ma qaddamat lighad."

Perhatikanlah masa lalu untuk memperbaiki masa depan. Inilah pentingnya mempelajari sejarah bagi umat Islam.

Kita hidup dalam sistem yang dirancang oleh musuh-musuh Islam. Sistem ini memaksa kita menjalankan aturan yang tidak berpihak pada syariat.

Padahal Rasulullah dan para sahabat telah memberikan teladan sempurna. Mereka menjalankan pemerintahan berdasarkan wahyu, bukan konsensus manusia.

Negara modern yang kita diami adalah warisan kolonialisme dan imperialisme. Ini adalah bentuk baru dari Novus Ordo Seclorum yang terus berjalan.

Sebagai muslim, kita diperintahkan berislam secara kafah. Bukan hanya dalam ibadah ritual, tapi juga dalam muamalah dan hukum.

Dengan memahami sejarah, kita bisa melihat jebakan yang dipasang musuh. Kita bisa berjuang untuk kembali pada sistem yang diridhai Allah.

Wallahu a'lam bishawab.

Kesimpulan

Revolusi Prancis yang mengeksekusi Louis XVI bukan sekadar pergantian kekuasaan. Di baliknya ada dendam Freemasonry yang berakar dari pembantaian Templar pada 1314. Para Templar yang selamat membentuk jaringan rahasia yang kemudian menjadi Freemasonry.

Mereka merancang tatanan dunia baru atau Novus Ordo Seclorum dengan doktrin Khomsah Qanun fi Talmud. Revolusi Prancis dan kemerdekaan Amerika adalah langkah awal untuk mewujudkannya. Negara-negara modern yang sekuler adalah hasil dari konspirasi panjang ini.

Bagi umat Islam, sejarah ini menjadi pelajaran berharga. Kita harus waspada terhadap sistem yang tidak berpihak pada syariat. Hanya dengan kembali pada petunjuk Allah dan Rasul-Nya, kita bisa keluar dari jebakan musuh. (*)